Belajar Kritis dari Peristiwa Bom di Sarinah

by

TruePapua.com РSuara ledakan yang disusul oleh kepulan asap putih akibat ledakan bom bunuh diri pada 14 Januari 2015 di sebuah kafe ternama di Jalan Thamrin  mengawali drama serangan teror di Jakarta. Hanya berselang detik, dua teroris lain melepaskan tembakan ke arah masyarakat dan menyandera dua orang warga negara asing. Polisi pun bertindak cepat dengan melumpuhkan dua penyandera dengan timah panas. Sementara diketahui belakangan, satu dari dua sandera meninggal dunia dan lainnya berhasil diselamatkan.

Masih pada saat yang sama, dua teroris lain yang menggunakan sepeda motor meledakan diri di Pos Polisi Sarinah yang tidak jauh dari tempat kejadian sebelumnya. Hal itu mengakibatkan seorang polisi dari Polsek Menteng terluka dan dua teroris lainnya mati seketika. Belakangan diketahui, serangan di Pos Polisi tersebut juga mengakibatkan meninggalnya seorang warga sipil yang sedang ditilang dan lainnya terluka akibat paku dari dari bom yang meledak.

Rentetan ledakan bom dan serangan bersenjata tersebut praktis memicu kepanikan kolektif. Masyarakat yang sedang beraktivitas berhamburan keluar gedung mencoba menyelamatkan dirinya masing-masing atau paling tidak menyaksikan apa yang tengah terjadi. Beberapa saksi mata menuturkan bahwa setidaknya terdapat enam kali ledakan menyerupai bom yang terjadi dalam insiden di Sarinah.

Sementara itu, situasi baru dapat dikendalikan setelah terjadi baku tembak selama kurang lebih 20 menit. Polisi dan aparat keamanan lainnya bergegas menyisir lokasi kejadian guna memastikan bahwa daerah tersebut telah steril dari ancaman teroris. Dari lokasi kejadian, aparat keamanan menemukan 6 bom yang terdiri dari 5 bom kecil yang menyerupai granat tangan dan 1 bom sebesar kaleng biskuit.

Pemberitaan serangan teror viral di berbagai media. Mulai dari televisi, radio, media sosial, hingga pesan singkat seperti WhatsApp, tidak henti-hentinya menyebarkan informasi tentang serangan teroris di Sarinah. Akibatnya, teror yang sebenarnya terjadi di pusat kota Jakarta seketika menjelma menjadi teror berskala nasional sehingga mampu menyita perhatian seluruh masyarakat Indonesia bahkan dunia.

Sayangnya, penyebaran informasi terkait serangan teroris di Sarinah relatif banyak dibumbui informasi yang kurang akurat bahkan jauh dari fakta sehingga justru menambah suasana semakin keruh. Simak saja informasi yang beredar pada  waktu itu bahwa serangan teroris tidak hanya terjadi di Sarinah, tetapi juga di Cikini, Slipi dan Kuningan. Atau juga simak berita lain yang mentasnamakan Dit Intel Polda Metro untuk menjauhi tempat-tempat American Branded.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *