LINDUNGI KELUARGA DARI BAHAYA NARKOBA

by

Sultan Pasya S.Sos ( pemerhati masalah sosial)

Publik seakan  dibuat merinding, ngeri,  marah, kesal, bercampur aduk perasaan mereka  mendegar kata narkoba. Narkoba sendiri merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika dan obat-obatan terlarang. Digunakan istilah narkoba , karena telah menjadi bahasan umum di masyarakat. Zat adiktif lain, seperti nikotin dan alkohol,sering menjadi pintu masuk pemakaian narkoba lain yang berbahaya. Juga inhalansia dan solven, yang terdapat pada berbagai keperluan rumah tangga, bengkel, kantor, dan pabrik yang sering disalahgunakan, terutama oleh anak-anak. Dahulu beberapa jenis narkoba alami, seperti opium (getah tanaman candu), kokain, dan ganja, digunakan sebagai obat. Akan tetapi , sekarang disalahgunakan, tidak hanya digunakan dalam pengobatan sangat terbatas dan tidak mengikuti petunjuk dokter atau aturan pakai yang akhirnya menyebabkan ketergantungan dan racun masuk dalam tubuhnya.

Penyalahgunaan Narkoba menjadi musuh bersama negara-negara di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Saat ini negara Indonesia sudah masuk dalam kategori darurat narkoba. Penyalahgunaan narkoba sudah memasuki semua elemen masyarakat, dari tingkat pejabat, aparat keamanan sampai anak sekolah atau  anak-anak usia muda yang notabene sebagai generasi penerus bangsa. Situasi ini harus ditangani cepat dan berkelanjutan karena apabila terlambat bukan tidak mungkin bangsa kita kedepan akan diiisi oleh  manusia pecandu-pecandu narkoba yang membuat negara kita akan tertinggal dari negara lainnya.

Menteri Sosial Republik Indonesia Khofifah Indar Parawansa, pada saat penandatanganan laskar anti narkoba (LAN) di gedung wanita Waisai Raja Ampat, Papua Barat, mengatakan  Indonesia saat ini darurat narkoba. Setiap hari 40-50 warga negara Indonesia meninggal dunia karena narkoba.  Karena itu, Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Raja Ampat memerangi narkoba untuk melindungi generasi muda bangsa terlebih khususnya anak muda Raja Ampat dari bahaya narkoba. Penandatanganan LAN  diawali dengan pembacaan ikrar anti narkoba oleh pengurus NU yang isinya menentang peredaran Narkoba di Indonesia terlebih khusus di Raja Ampat.

Berharap  pengurus laskar anti narkoba NU Kabupaten Raja Ampat ke depan sudah terbentuk minimal lima orang satu kampung guna memerangi peredaran narkoba.  Raja Ampat adalah tempat wisata yang terkenal di dunia dan banyak wisatawan asing yang berkunjung, sehingga laskar NU setempat harus mengantisipasi peredaran narkoba. Sudah saatnya pemerintah dan masyarakat sama-sama memberikan pendidikan terhadap anak tentang bahayanya narkoba, jangan biarkan anak-anak Indonesia menjadi korban narkoba.

Saat ini bahaya narkoba yang ada di Indonesia sudah meresahkan dan dengan adanya deklarasi LAN di seluruh Indonesia diharapkan bisa mengingatkan masyarakat tentang bahaya narkoba. Laskar ini nantinya akan bekerja untuk terus menyosialisasikan tentang bahaya narkoba hingga ke tingkat ranting atau yang ada di desa-desa. Mulai tingkat ranting atau desa maupun kelurahan disiapkan 3-5 anggota laskar untuk menyampaikan pesan ke masyarakat. Sebenarnya, gongnya sudah dilakukan pada 26 Maret 2016 di Stadion Gajahyana Malang yang dihadiri Presiden RI, Jokowi. Kemudian, deklarasi tersebut diikuti seluruh pimpinan wilayah cabang se-Indonesia.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj menyatakan kiai kampung memiliki peran besar terhadap pembangunan karakter bangsa. Para kiai memiliki andil besar dalam pembangunan karakter, jati diri, dan kepribadian bangsa ini.  Pertahanan dan ketahanan budaya harus diperkuat dalam menghadapi era globalisasi. Kondisi tersebut sangat jauh berbeda dengan Timur Tengah, begitu memasuki era globalisasi para pemuda bangsa Arab yang sekolah di Amerika Serkat dan Eropa saat pulang ke negerinya masing-masing budaya mereka berubah.

Banyak alasan kenapa seseorang menyalahgunakan narkoba misalnya agar dapat diterima oleh lingkungan,mengurangi stres, bebas dari rasa murung, mengatasi masalah pribadi, merupakan gaya hidup modern, dan lain-lain.  Jadi penyalahgunaan narkoba berawal dari persepsi/anggapan keliru yang tumbuh di masyarakat. Mereka tidak mau memahami atau tidak mau menerima kenyataan atau fakta  bahwa penyalahgunaan narkoba akan merugikan kesehatannya dan akan berhadapan dengan hukum.

Penyalahgunaan narkoba rentan terjadi pada masa remaja, atau masa ingin coba-coba. Awalnya ditawarkan oleh seseorang atau kelompok teman sebaya, agar mau mencoba memakainya. Penawaran terjadi biasanya dalam situasi santai misalnya di kantin sekolah, pulang dari sekolah, di jalan, di restoran, mall, rumah teman, dan lain-lain. Biasanya anak remaja yang tidak dibekali ilmu pengetahuan, kasih sayang keluarga, dan anggapan tidak ketinggalan zaman dalam era globalisasi, akan berani memulai mencoba narkoba, dengan  alasan- seperti yang diungkapkan diatas.

Proses seseorang menjadi ketergantungan dapat digambarkan seperti orang yang menembus tembok, pada tahap pemakaian ia masih dapat menghentikannya. Jika telah terjadi ketergantungan, maka akan sulit untuk menghentikannya, betapapun ia berusaha. Apabila sudah ketergantunga ia berusaha untuk selalu mendapat narkoba dengan berbagai cara, berbohong, menipu, mencuri  dan perbuatan tindak kriminal lainnya akan dilakukannya. Seseorang yang telah menyalahgunakan narkoba harus mengetahui akibat penyalahgunaan narkoba, bagi dirinya sendiri, misalnya terganggunya fungsi otak dan perkembangan normal remaja yang otomatis tidak semangat dalam menjalani pendidikan sekolah, keracunan, Overdosis (OD) yang bisa mengakibatkan kematian, berulang kali kambuh yang dapat menganggu perilaku mental dan sosial, anak dapat putus sekolah karena dikeluarkan dari sekolah, sampai  dapat bersentuhan dengan hukum.

Sementara kerugian bagi keluarganya akibat penyalahgunaan narkoba, bardampak pada timbulnya suasana tak  nyaman bagi  keluarga. Sebab  biasanya anak yang ketergantungan dengan narkoba akan menjual barang-barang berharga dirumah, anak akan berbohong, mencuri, menipu, acuh tak acuh dengan urusan keluarga, hidup semaunya,  anti sosial, dan lain sebagainya. Nantinya orang tua pecandu narkoba akan malu akan  merasa bersalah, sedih dan marah. Mereka berusaha menutupi perbuatan anak agar tidak diketahui orang lain. Orang tua menjadi putus asa karena masa depan anak tidak jelas.

Pencegahan adalah lebih baik daripada pengobatan, antara lain dengan membentengi diri sendiri dengan iman dan taqwa, menjaga pergaulan dari hal yang menjurus ke narkoba, latihan peningkatan percaya diri tidak harus melalui narkoba, melakukan kegiatan yang cocok pada kehidupan remaja, mendorong partisipasi pada kegiatan yang positif, saling memberi dukungan dan kasih sayang, meningkatkan keterampilan dasar, mencoba mengubah kebiasaan buruk, dan menjauh dari hal-hal yang negatif dan  yang paling penting adalah selalu waspada, karena banyak modus-modus pengedar narkoba untuk menjerat pemula terutama anak-anak remaja.

Jika ada remaja yang sudah menjadi pecandu,harus diberi pengertian sedikit demi sedikit, dan tidak dijauhi atau di acuhkan di masyarakat. Melaporkan ke pihak yang berwajib jika mengetahui pengedar/bandar narkoba. Memberikan program, terapi dan rehabilitasi, menyediakan sarana konseling untuk para pemakai dan pengedar narkoba. Masih banyak lagi hal yang bisa dilakukan untuk mencegah remaja memakai narkoba.

Kita sebagai generasi muda haruslah tetap berpegang pada jati diri bangsa kita, jangan mudah terpengaruh dengan orang atau budaya  lain yang membawa pada hal negatif. Narkoba adalah musuh bagi kita, dengan memakai narkoba berarti hidup yang indah ini telah terbuang sia-sia. Kenikmatan yang sementara akan membawa kehancuran selamanya. Sudah saatnya sekarang ini melakukan gerakan nasional keluarga bebas dari narkoba, antara lain dengan melakukan kerjasama antara individu, keluarga, sekolah, masyarakat sekitar, pemerintah, yang semuanya memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya pencegahan dan penanggulangan narkoba. Jangan biarkan anak-anak Indonesia sebagai generasi penerus bangsa menjadi korban narkoba.

 

Editor: Syukri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *