ESDM Pangkas Alokasi Gas, Kemenperin Tak Yakin Bisa Terserap

by

Kementerian Perindustrian pesimistis alokasi gas blok Masela dapat terserap industri dalam negeri. Alasanya, nilai alokasi yang ditetapkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terlalu kecil sehingga perusahaan yang ingin menyerap gas menjadi terbatas.

Direktur Industri Kimia Dasar Kementerian Perindustrian Muhammad Khayam mengatakan awalnya, alokasi gas dalam negeri yang ditargetkan 474 MMSCFD. Ini berdasarkan diskusi dengan Kementerian ESDM.

Namun, belakangan, Kementerian ESDM memangkas alokasi tersebut menjadi 150 MMSCFD. “Alokasi ini dibatasi 150 MMSCFD, ini kan sulit untuk dikembangkan industri,” kata Khayam, Rabu (10/1).

Dengan besaran alokasi tersebut, Khayam khawatir tidak ada industri yang mau menyerap gas tersebut. Jika pun ada, kemungkinan hanya satu perusahaan yang bisa mengembangkan industri di area tersebut. Padahal Kemenperin menargetkan dua hingga tiga perusahaan yang bisa mengembangkan industri di kawasan itu.

Menurut Khayam, kalau pun alokasi gas tersebut dipotong, seharusnya masih di level 200 hingga 300 MMSCFD, sehingga masih layak  diserap industri di Blok Masela. Ini karena tujuan memilih skema pengembangan di darat (onshore) karena ingin indstri dalam negeri tumbuh.

Akan tetapi, dengan alokasi sebesar 150 MMSCFD, maka mau tak mau sebagian besar gas blok Masela akan dialokasikan untuk diekspor. “Padahal ide untuk melakukan onshore Masela itu kan  itu kan basisnya untuk memaksimalkan industri dalam negeri,” kata Khayam.

Meski begitu, hingga kini, Khayam mengaku belum menerima resmi pemberitahuan dari Kementerian ESDM terkait alokasi gas Blok Masela yang dipangkas dari 474 MMSCFD menjadi 150 MMSCFD. Apabila nantinya sudah resmi, pihaknya akan mencoba mencari perusahaan yang mau membelinya.

Sebelumnya Kementerian Perindustrian memang mengusulkan tiga industri untuk dapat menyerap gas blok Masela. Tiga industri itu adalah PT Pupuk Indonesia dengan alokasi 214 mmscfd, Elsoro Multi Prima sebanyak 160 mmscfd dan Kaltim Metanol Industri/Sojitz (KMI) sebesar 100 mmscfd.

Namun dengan alokasi baru, kemungkinan perusahaan itu bisa berubah. “Dulu kan ada tiga perusahaan yang kami ajukan. Mungkin kami ulang lagi,” ujar Khayam.

Di sisi lain, ketiga industri yang dulu sempat ditawarkan itu hanya mampu menyerap gas Masela dengan harga US$ 3 hingga 4 per mmbtu. Namun, SKK Migas menginginkan lebih dari itu untuk menghindari adanya calo.

Selain itu, Khayam mengusulkan penentuan harga gas Masela berdasarkan harga produk (formula price). Dengan begitu, harga gas akan mengikuti harga produk yang dihasilkan industri secara internasional. Misalnya, jika harga produk di pasar internasional rendah, maka harga gas juga ikut rendah, sementara jika harga produk naik harga gas bisa ikut terdongkrak naik.

Sayangnya, usulan itu ditolak Kementerian ESDM. Meski begitu, Khayam tak mau merinci alasan penolakan usulan formula price itu. Yang jelas, Kementerian ESDM lebih memilih menggunakan formula harga tetap (fix price) untuk proyek Blok Masela.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *