BPH Migas Apresiasi Pertamina Berikan Sangsi Terhadap APMS di Sumenep

by

Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mengapresiasi PT Pertamina MOR V  karena berani mengambil tindakan tegas dan memberikan sangsi berupa penutupan sementara dan memberikan peringatan kepada dua Agen Premium Minyak dan Solar (APMS) Nakal di Pulau Kangean Sumenep.

Anggota Komite BPH Migas Hendry Ahmad mengatakan bahwa pasca ditutup sementara terhadap salah satu dari 2 APMS nakal tersebut. Ia meminta Pertamina bertanggung jawab terhadap kelancaran pasokan BBM di Sumenep.

“Pertamina kita minta untuk menjamin kelancaran jangan sampai terjadi kelangkaan. Itu wajib. Persoalannya ada kekurangan itu, misalnya premium berkurang tapi pertalite ada. Jangan sampai premium berkurang pertalite juga tidak ada,” ujar Hendry ditemui di Surabaya (9/3).

Ia juga meminta Pertamina agar lebih ketat dalam melakukan pengawasan. Sebab tanpa pengawasan yang baik kejadian terkait dengan penyimpangan yang dilakukan oleh penyalur BBM bersubsidi bisa saja terjadi. Alhasil masyarakat yang dirugikan.

Disisi lain terkait dengan indikasi pelanggaran hukum yang dilakukan oleh APMS nakal tersebut. Jika memang ditemukan bukti yang cukup lantaran menjual BBM satu harga diatas rata-rata harga normal. Ia mempersilakan untuk pihak-pihak terkait seperti kepolisian untuk memproses sesuai dengan hukum dan perundang-undangan yang berlaku.

‘Kalau yang terkait dengan undang-undang dan  pelanggaran itu ranah hukum. Polisi lah yang bertindak, ketika ada sesuatu yang terjadi di lapangan,” tambah dia.

General Manager Pertamina MOR V, Ibnu Chouldum mengatakan Pertamina menindak lanjuti laporan dari masyarakat dan hasil temuan dari BPH migas. Bersama dengan Pemerintah Daerah setempat Pertamina sudah menindak tegas terkait dengan penyimpangan yang dilakukan oleh 2 buah APMS di Pulau Kagean, Sumenep dan di Pulau Raas.

“Kita menindaklanjuti laporan dari masyarakat yang dan hasil temuan dari BPH Migas tentunya kami Pertamina akan menindak lanjuti hasil-hasil tersebut bersama Pemda setempat,” kata Ibnu Chouldum saat ditemui di tempat yang sama.

Ibnu menambahkan bahwa Pertamina tidak segan-segan untuk menutup APMS Nakal jika sudah tidak bisa diingatkan. Menurut dia Pertamina sudah memiliki aturan mainnya sendiri.

“Kan ada aturan main dia sign kontrak sama kita ada aturan mainnya. Ku dia Melakukan ini. Ada aturan mainnya. Nggak ada masalah karena sepakat ada di kita dan penyalur,” pungkasnya.

Sebagai informasi sebanyak 2 APMS di pulau kangean melakukan penyimpangan terhadap distribusi BBM. Sebab dijual ke pengepul dan oleh pengepul, BBM satu harga kemudian dijual lagi ke pengecer dengan harga tinggi. Dampaknya masyarakat di sekitar pulau itu akhirnya harus membeli BBM dengan harga jenis premium Rp 9.000 sampai dengan Rp 10.000 per liternya dan solar Rp7.000 sampai dengan 7.500 per liternya. Jauh lebih mahal dari harga yang ditetapkan pemerintah yaitu Rp 6.550 per liter untuk premium dan Rp5.150 per liter untuk solar.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *